Cara memotong kuku pada jari tangan adalah mulai dari jari telunjuk kanan sampai jari kelingking kanan dan disambung dari kelingking kiri sampai ibu jari kiri dan berakhir pada ibu jari kanan.
Untuk memotong kuku pada jari kaki dimulai dari kelingking kanan ke sebelah kiri sampai ke kelingking sebelah kiri.
Waktu memotong kuku sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik yang artinya:"Telah ditentukan waktu kepada kami memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari- ari agar kami tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam."(hadis riwayat muslim)
Diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri dan Abu Hurairah r.a yang artinya:"Bersabda Rasulullah saw:"Siapa saja yang mandi pada hari jum'at, memotong kuku, memakai wangi-wangian ( jika memilikinya), dan memakai pakaian yang terbaik kemudian keluar rumah sehingga sampai ke masjid, dia tidak melangkahi ( menerobos masuk) orang- orang yang telah bersaf, kemudian mengerjakan sembahyang apa saja ( sembahyang sunnat ), dan dia diam ketika imam berkhutbah dan tidak berkata- kata sehingga selesai mengerjakan sembahyang, maka jadilah penebus dosa diantara jum'at itu dan jum'at sebelumnya." (hadis riwayat ahmad)
Memotong kuku ketika haid, nifas dan junub menurut kitab al- Ihya' jika seseorang itu dalam keadaan junub atau berhadas besar jangan dia memotong rambut, kuku atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu yang jelas daripada badannya sebelum dia mandi junub karena segala potongan itu di akhirat kelak akan kembali kepadanya dengan keadaan junub.
Untuk dalam hal mewarnai kuku ( kutex ) jika pewarna kuku itu dapat menghalangi masuknya air saat berwudhu maka tidak boleh menggunakan warna tersebut, jika masih digunakan maka tidak sah wudhunya.
Untuk kaum laki- laki haram hukumnya memakai kutex pada kuku tangan maupun kaki sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang artinya :"Bahwa Nabi saw melarang kaum laki- laki memakai za'faran (kuma- kuma)(H.R. Muslim).
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
Hukum Mani Dan Madzi
Menurut ulama air mani dinyatakan suci. Dalilnya adalah sebagai berikut:
riwayat Aisyah r.a ia berkata:
"Rasulullah biasanya mencuci pakaiannya yang terkena mani. Setelah itu baru kemudian berangkat menuju shalat dengan mengenakan pakaian tersebut. Sementara aku masih melihat bilasan pada pakaian tersebut."(H.R. Muttafaqun 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
"Aku pernah mengerik bekas mani yang tersisa pada pakaian Rasulullah, lalu beliau kenakan untuk shalat."
Dan dalam lafal yang juga berbunyi,
"Aku pernah mengerik mani yang mengering pada pakaian beliau dengan kuku."
Bahkan diriwayatkan secara sahih bahwa beliau membiarkannya saja mani yang masih basah. Cukup dengan mengusapnya dengan batang kayu atau sejenisnya. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad(VI/243)
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menghilangkan bekas mani pada pakaiannya dengan kayu idzkhir kemudian mengerjakan shalat dengan mengenakannya. Bila mani itu mengering beliau kerik kemudian mengerjakan shalat dengan pakaian itu."(hadist ibnu khuzaimah dalam kitab shahih beliau dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-albani dalam al-irwa' 1/197)
sementara madzi dinyatakan najis. Pernyataan ini berdasarkan hadits Ali bin Abu Thalib r.a., ia berkata:
"Saya adalah seorang pria yang sering mengeluarkan madzi. Karena itu saya pun menyuruh Miqdad menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah bersabda,cukup berwudhu saja!"(H.R. Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk mencuci zakar dan buah pelir lalu berwudhu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu 'Uwanah dalam Al-Mustakhrij.
Dalam kitab At-Talkhis Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,"Sanad hadits ini bersih tidak ada cacatnya. Oleh sebab itu, madzi statusnya najis, wajib mencuci zakar dan buah pelir karena mengeluarkannya serta membatalkan wudhu."
untuk pakaian yang terkena madzi, maka cukuplah dengan air pada pakaian yang terkena karena sangat menyulitkan bila harus dicuci
riwayat Aisyah r.a ia berkata:
"Rasulullah biasanya mencuci pakaiannya yang terkena mani. Setelah itu baru kemudian berangkat menuju shalat dengan mengenakan pakaian tersebut. Sementara aku masih melihat bilasan pada pakaian tersebut."(H.R. Muttafaqun 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
"Aku pernah mengerik bekas mani yang tersisa pada pakaian Rasulullah, lalu beliau kenakan untuk shalat."
Dan dalam lafal yang juga berbunyi,
"Aku pernah mengerik mani yang mengering pada pakaian beliau dengan kuku."
Bahkan diriwayatkan secara sahih bahwa beliau membiarkannya saja mani yang masih basah. Cukup dengan mengusapnya dengan batang kayu atau sejenisnya. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad(VI/243)
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menghilangkan bekas mani pada pakaiannya dengan kayu idzkhir kemudian mengerjakan shalat dengan mengenakannya. Bila mani itu mengering beliau kerik kemudian mengerjakan shalat dengan pakaian itu."(hadist ibnu khuzaimah dalam kitab shahih beliau dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-albani dalam al-irwa' 1/197)
sementara madzi dinyatakan najis. Pernyataan ini berdasarkan hadits Ali bin Abu Thalib r.a., ia berkata:
"Saya adalah seorang pria yang sering mengeluarkan madzi. Karena itu saya pun menyuruh Miqdad menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah bersabda,cukup berwudhu saja!"(H.R. Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk mencuci zakar dan buah pelir lalu berwudhu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu 'Uwanah dalam Al-Mustakhrij.
Dalam kitab At-Talkhis Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,"Sanad hadits ini bersih tidak ada cacatnya. Oleh sebab itu, madzi statusnya najis, wajib mencuci zakar dan buah pelir karena mengeluarkannya serta membatalkan wudhu."
untuk pakaian yang terkena madzi, maka cukuplah dengan air pada pakaian yang terkena karena sangat menyulitkan bila harus dicuci
Label:
Agama
Ramadhan Sarana Memperbaharui Kehidupan
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى والفرقان
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al-Baqoroh: 186)
ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريفا متفق عليه
“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahya dari api neraka dengan puasa itu sejauh tujuh puluh tahun.” (Muttafaq Alaihi)
Kehidupan yang monoton serta keseharian yang berlangsung dalam kondisi yang sama membuat hidup begitu menjenuhkan. Sebagai hasilnya, banyak orang yang bosan dengan hidup mereka.
Akan tetapi Islam memberikan rasa yang berbeda dari kehidupan, yang akan menghilangkan rasa yang menjemukan itu, semua yang diperintahkan oleh islam ditujukan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik dan selalu baru. Allah berfirman: “Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Dalam shalat lima waktu tidaklah itu dilakukan kecuali untuk memecahkan kebosanan dalam keseharian. Shalat Jumat dilaksanakan satu kali dalam seminggu adalah untuk memecahkan kemonotonan dan menyegarkan kembali hati yang terbebani dan tercemari oleh banyaknya rutinitas dan pekerjaan selama satu minggu. Bulan romadhan menjadi pencerah dari kejenuhan satu tahun kita yang sibuk mengumpul harta, saat ramadhan tiba, maka kesibukan barupun ada yaitu kesibukan untuk mengumpulkan harta dan bekal akhirat. Ini merupakan saat yang tepat, karena setiap amalan dilipatkan gandakan oleh Allah.
Setiap tempat pemberhentian ini mempunyai pungsinya masing-masing, ia akan memperbaharui kembali jiwa-jiwa orang beriman dengan makna-makna baru sehingga kehidupan selalu menjadi baik. Maka tidak ada alasan untuk tidak menjadi baik, karena Allah SWT telah menyediakan kesempatan untuk membuat kehidupan kita menjadi baik.
Maka Ramadhan merupakan tempat pemberhentian yang besar dari stasiun-stasiun yang ada, yang di sana Allah membantu hamba-Nya yang ingin meningkatkan kwalitas dirinya menjadi hamba yang bertakwa, bahkan Allah membantunya dengan membelenggu setan sehingga tidak punya peran untuk menghalanginya dalam mencapai perbaikan diri dalam kehidupannya.
Ramadhan adalah napas dan karunia ilahi di dunia, di mana seseorang dapat memperbaharui kehidupan mereka dan memberikan mereka harapan. Ini berarti bahwa kehidupan di bulan Ramadan merupakan awal dan sarana untuk memperbaharui hidup untuk satu tahun ke depan. Maka di antara sarana untuk memperbaharui hidup di bulan ramadhan adalah sebagai berikut:
Pertama: Waktu sahur.
Ini merupakan waktu yang berkah yang banyak terbuang sia-sia sepanjang tahun, maka dengan kedatangan ramadhan akan mengingatkan pentingnya waktu yang berkah ini, jangan sampai waktu sahur hanya digunakan untuk menambah energi badan saja dengan makanan, padahal waktu inilah waktu yang sangat mahal untuk menambah energi ruhiyah dengan melaksanakan sholat qiyamullail. Pada sepertiga malam, Allah turun ke langit dunia sambil berfirman: “Apakah ada dari hambaku yang memohon ampunan, maka Aku akan ampuni dia, adakah dari hamba-Ku yang meminta rezeki, maka Aku akan berikan padanya.” Alangkah sangat malunya kita, di saat Allah turun ke langit bumi, menyaksikan hamba-Nya sambil menunggu waktu imsak tiba bukan dengan memperbanyak istighfar, namun dengan menghabiskan waktu yang berkah itu dengan menghisap rokok, dengan dalih besok puasa dari makan, minum dan merokok. Perhatikanlah firman Allah berikut:
كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan. (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)
Waktu sahur merupakan waktu memulai perubahan dalam kehidupan kita, saat yang tepat untuk memohon kepada Allah kebaikan agama, dunia dan akhirat kita.
Kedua: Sholat Shubuh berjamaah di masjid.
Ini pun merupakan waktu yang sering disia-siakan dan dilalaikan sepanjang tahun. Dengan datangnya ramadhan kembali menyadarkan kita bahwa sholat shubuh berjamaah di masjid adalah sholat yang disaksikan oleh malaikat.
Allah SWT berfirman: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS. Al-Isra:78)
Rosulullah SAW bersabda:
بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة يفزع الناس ولا يفزعون
“Berilah kabar gembira kepada mereka yang berjalan ke masjid di tengah kegelapan dengan cahaya pada hari kiamat, saat manusia takut mereka tidak merasa takut.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ketiga: Memperbanyak berdoa.
Apalagi pada bulan yang berkah ini, yang mana doa orang berpuasa dikabulkan oleh Allah, sebagaimana sabda Rosulullah SAW: “Tiga hal yang doanya tidak ditolak, diantaranya: Seorang yang berpuasa sampai ia berbuka.”
Para ulama menjelaskan bahwa diletakkan ayat tentang berdoa di antara ayat-ayat berkenaan dengan puasa sebagaimana di dalam ayat: 186 surat Al-Baqoroh, yang terletak di antara ayat 183 dan 187.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqoroh: 186)
Ayat Ini mengisyaratkan bahwa doa pada saat berpuasa tidak ditolak. Berapa banyak hajat dan keperluan kita kepada Allah yang ingin dipenuhi, maka pada saat berpuasa di bulan Ramadhan ini saat yang tepat untuk banyak memohon kepada-Nya.
Keempat: Membaca Al-Quran, mentafakuri dan mentadaburinya.
Bulan Ramadhan merupakan diturunkannya Al-Quran, sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqoroh: 186)
Maka membaca Al-Quran pada bulan ramadhan sambil mentadaburinya khususnya pada bulan Ramadhan bernilai pahala yang besar. Saat pada bulan-bulan lain saat orang-rang jauh dari Al-Quran, maka hal itu jangan sampai terjadi di saat Ramadhan tiba. Al-Quran harus menjadi rutinitas utama di bulan Ramadhan. Hendaklah bagi setiap orang beriman dapat menghatamkan minimal satu kali selama bulan Ramadhan sambil mentadaburinya.
Kelima: Sholat berjamaah di masjid.
Ramadhan menjadi moment yang tepat untuk kembali meramaikan masjid dengan sholat berjamaah. Saat semua orang bisa datang untuk sholat tarawih berjamaah di masjid, tentunya bukan hanya sholat tarawih saja, namun sholat yang lima waktu lainnya juga dapat dilaksanakan secara berjamaah.
Ada banyak cara untuk memperbaharui kehidupan kita dalam bulan Ramadhan, termasuk di antaranya banyak mendirikan qiyamullail, bersedekah dan menjalin kembali ikatan kekerabatan dan memahami makna persaudaraan. Itu semua memberi nuansa baru bagi kehidupan seorang muslim.
Sarana yang paling penting dalam memperbaharui kehidupan adalah seperti yang dinyatakan di dalam Al-Quran ketika menjelaskan puasa di bulan Ramadan, yaitu Al-Quran, maka memperbanyak membaca Al-Quran dan mentadaburinya selama bulan ramadhan adalah cara utama untuk meningkatkan kualitas iman dan membangun kesadaran memahami nilai-nilai kehidupan di dalam islam.
Yang tak kalah pentingnya untuk memperbaharui kehidupan seorang muslim dari nilai ramadhan adalah dengan sedikitnya satu jam membaca siroh dan biografi Nabi Muhammad SAW, mempelajari dan mengikuti kehidupan Rosulullah SAW, dengan begitu ada acuan dan panduan kehidupan seperti apa yang semestinya diikuti oleh orang-orang beriman.
Semua sarana ini adalah awal untuk menjalani kehidupan baru yang lebih baik, dan bukanlah merupakan sebuah akhir, banyak orang berpikir bahwa meningkatkan ibadah itu hanya di bulan ramadan saja, mereka giat membaca dan meningkatkan kwalitas dirinya, serta bertaubat dengan sebenar-benarnya. Setelah ramadhan berakhir berakhir pulalah kebiasaan baik yang telah ia laksanakan. Maka ini merupakan sebuah kemunduran. Ramadhan merupakan percikan yang harus selalu masing-masing dari kita untuk menjaga kesinambungannya. Karena Iman dan amal sholeh itu tidak memiliki musim yang ketika berakhirnya musim itu berakhir pulalah keimanan dan amal sholeh.
Wallahu a’lam bishowab.
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al-Baqoroh: 186)
ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريفا متفق عليه
“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahya dari api neraka dengan puasa itu sejauh tujuh puluh tahun.” (Muttafaq Alaihi)
Kehidupan yang monoton serta keseharian yang berlangsung dalam kondisi yang sama membuat hidup begitu menjenuhkan. Sebagai hasilnya, banyak orang yang bosan dengan hidup mereka.
Akan tetapi Islam memberikan rasa yang berbeda dari kehidupan, yang akan menghilangkan rasa yang menjemukan itu, semua yang diperintahkan oleh islam ditujukan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik dan selalu baru. Allah berfirman: “Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Dalam shalat lima waktu tidaklah itu dilakukan kecuali untuk memecahkan kebosanan dalam keseharian. Shalat Jumat dilaksanakan satu kali dalam seminggu adalah untuk memecahkan kemonotonan dan menyegarkan kembali hati yang terbebani dan tercemari oleh banyaknya rutinitas dan pekerjaan selama satu minggu. Bulan romadhan menjadi pencerah dari kejenuhan satu tahun kita yang sibuk mengumpul harta, saat ramadhan tiba, maka kesibukan barupun ada yaitu kesibukan untuk mengumpulkan harta dan bekal akhirat. Ini merupakan saat yang tepat, karena setiap amalan dilipatkan gandakan oleh Allah.
Setiap tempat pemberhentian ini mempunyai pungsinya masing-masing, ia akan memperbaharui kembali jiwa-jiwa orang beriman dengan makna-makna baru sehingga kehidupan selalu menjadi baik. Maka tidak ada alasan untuk tidak menjadi baik, karena Allah SWT telah menyediakan kesempatan untuk membuat kehidupan kita menjadi baik.
Maka Ramadhan merupakan tempat pemberhentian yang besar dari stasiun-stasiun yang ada, yang di sana Allah membantu hamba-Nya yang ingin meningkatkan kwalitas dirinya menjadi hamba yang bertakwa, bahkan Allah membantunya dengan membelenggu setan sehingga tidak punya peran untuk menghalanginya dalam mencapai perbaikan diri dalam kehidupannya.
Ramadhan adalah napas dan karunia ilahi di dunia, di mana seseorang dapat memperbaharui kehidupan mereka dan memberikan mereka harapan. Ini berarti bahwa kehidupan di bulan Ramadan merupakan awal dan sarana untuk memperbaharui hidup untuk satu tahun ke depan. Maka di antara sarana untuk memperbaharui hidup di bulan ramadhan adalah sebagai berikut:
Pertama: Waktu sahur.
Ini merupakan waktu yang berkah yang banyak terbuang sia-sia sepanjang tahun, maka dengan kedatangan ramadhan akan mengingatkan pentingnya waktu yang berkah ini, jangan sampai waktu sahur hanya digunakan untuk menambah energi badan saja dengan makanan, padahal waktu inilah waktu yang sangat mahal untuk menambah energi ruhiyah dengan melaksanakan sholat qiyamullail. Pada sepertiga malam, Allah turun ke langit dunia sambil berfirman: “Apakah ada dari hambaku yang memohon ampunan, maka Aku akan ampuni dia, adakah dari hamba-Ku yang meminta rezeki, maka Aku akan berikan padanya.” Alangkah sangat malunya kita, di saat Allah turun ke langit bumi, menyaksikan hamba-Nya sambil menunggu waktu imsak tiba bukan dengan memperbanyak istighfar, namun dengan menghabiskan waktu yang berkah itu dengan menghisap rokok, dengan dalih besok puasa dari makan, minum dan merokok. Perhatikanlah firman Allah berikut:
كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan. (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)
Waktu sahur merupakan waktu memulai perubahan dalam kehidupan kita, saat yang tepat untuk memohon kepada Allah kebaikan agama, dunia dan akhirat kita.
Kedua: Sholat Shubuh berjamaah di masjid.
Ini pun merupakan waktu yang sering disia-siakan dan dilalaikan sepanjang tahun. Dengan datangnya ramadhan kembali menyadarkan kita bahwa sholat shubuh berjamaah di masjid adalah sholat yang disaksikan oleh malaikat.
Allah SWT berfirman: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS. Al-Isra:78)
Rosulullah SAW bersabda:
بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة يفزع الناس ولا يفزعون
“Berilah kabar gembira kepada mereka yang berjalan ke masjid di tengah kegelapan dengan cahaya pada hari kiamat, saat manusia takut mereka tidak merasa takut.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ketiga: Memperbanyak berdoa.
Apalagi pada bulan yang berkah ini, yang mana doa orang berpuasa dikabulkan oleh Allah, sebagaimana sabda Rosulullah SAW: “Tiga hal yang doanya tidak ditolak, diantaranya: Seorang yang berpuasa sampai ia berbuka.”
Para ulama menjelaskan bahwa diletakkan ayat tentang berdoa di antara ayat-ayat berkenaan dengan puasa sebagaimana di dalam ayat: 186 surat Al-Baqoroh, yang terletak di antara ayat 183 dan 187.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqoroh: 186)
Ayat Ini mengisyaratkan bahwa doa pada saat berpuasa tidak ditolak. Berapa banyak hajat dan keperluan kita kepada Allah yang ingin dipenuhi, maka pada saat berpuasa di bulan Ramadhan ini saat yang tepat untuk banyak memohon kepada-Nya.
Keempat: Membaca Al-Quran, mentafakuri dan mentadaburinya.
Bulan Ramadhan merupakan diturunkannya Al-Quran, sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqoroh: 186)
Maka membaca Al-Quran pada bulan ramadhan sambil mentadaburinya khususnya pada bulan Ramadhan bernilai pahala yang besar. Saat pada bulan-bulan lain saat orang-rang jauh dari Al-Quran, maka hal itu jangan sampai terjadi di saat Ramadhan tiba. Al-Quran harus menjadi rutinitas utama di bulan Ramadhan. Hendaklah bagi setiap orang beriman dapat menghatamkan minimal satu kali selama bulan Ramadhan sambil mentadaburinya.
Kelima: Sholat berjamaah di masjid.
Ramadhan menjadi moment yang tepat untuk kembali meramaikan masjid dengan sholat berjamaah. Saat semua orang bisa datang untuk sholat tarawih berjamaah di masjid, tentunya bukan hanya sholat tarawih saja, namun sholat yang lima waktu lainnya juga dapat dilaksanakan secara berjamaah.
Ada banyak cara untuk memperbaharui kehidupan kita dalam bulan Ramadhan, termasuk di antaranya banyak mendirikan qiyamullail, bersedekah dan menjalin kembali ikatan kekerabatan dan memahami makna persaudaraan. Itu semua memberi nuansa baru bagi kehidupan seorang muslim.
Sarana yang paling penting dalam memperbaharui kehidupan adalah seperti yang dinyatakan di dalam Al-Quran ketika menjelaskan puasa di bulan Ramadan, yaitu Al-Quran, maka memperbanyak membaca Al-Quran dan mentadaburinya selama bulan ramadhan adalah cara utama untuk meningkatkan kualitas iman dan membangun kesadaran memahami nilai-nilai kehidupan di dalam islam.
Yang tak kalah pentingnya untuk memperbaharui kehidupan seorang muslim dari nilai ramadhan adalah dengan sedikitnya satu jam membaca siroh dan biografi Nabi Muhammad SAW, mempelajari dan mengikuti kehidupan Rosulullah SAW, dengan begitu ada acuan dan panduan kehidupan seperti apa yang semestinya diikuti oleh orang-orang beriman.
Semua sarana ini adalah awal untuk menjalani kehidupan baru yang lebih baik, dan bukanlah merupakan sebuah akhir, banyak orang berpikir bahwa meningkatkan ibadah itu hanya di bulan ramadan saja, mereka giat membaca dan meningkatkan kwalitas dirinya, serta bertaubat dengan sebenar-benarnya. Setelah ramadhan berakhir berakhir pulalah kebiasaan baik yang telah ia laksanakan. Maka ini merupakan sebuah kemunduran. Ramadhan merupakan percikan yang harus selalu masing-masing dari kita untuk menjaga kesinambungannya. Karena Iman dan amal sholeh itu tidak memiliki musim yang ketika berakhirnya musim itu berakhir pulalah keimanan dan amal sholeh.
Wallahu a’lam bishowab.
Label:
Agama
Hadist Pengharaman Daging babi
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, telah
dekat waktunya Isa bin Maryam turun kepada kalian untuk menjadi hakim
yang adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan tidak
menerima upeti. Harta akan melimpah, sehingga tak seorang pun mau
menerimanya. (Shahih Muslim No.220)
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada tahun penaklukan,
ketika beliau masih berada di Mekah: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya
telah mengharamkan penjualan khamar, bangkai, babi dan berhala. Lalu
beliau ditanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai yang
digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit dan untuk menyalakan
lampu? Beliau menjawab: Tidak boleh, ia tetap haram (Shahih Muslim
No.2960)
Rasulullah saw. bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, telah
dekat waktunya Isa bin Maryam turun kepada kalian untuk menjadi hakim
yang adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan tidak
menerima upeti. Harta akan melimpah, sehingga tak seorang pun mau
menerimanya. (Shahih Muslim No.220)
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada tahun penaklukan,
ketika beliau masih berada di Mekah: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya
telah mengharamkan penjualan khamar, bangkai, babi dan berhala. Lalu
beliau ditanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai yang
digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit dan untuk menyalakan
lampu? Beliau menjawab: Tidak boleh, ia tetap haram (Shahih Muslim
No.2960)
Label:
Agama
Ayat-Ayat Yang Menyebutkan Bahwa Babi Hukumnya Haram
(QS Al Baqarah ayat 173)
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging
babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108].
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa
baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[108]. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang
menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah
(QS Al Maa'idah Ayat 3)
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang
terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali
yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang
disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan
anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini[397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
[394]. Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al Anaam
ayat 145.
[395]. Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang
ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat
disembelih sebelum mati.
[396]. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah
menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah
mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka
ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masingmasing
yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak
ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah.
Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru
kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah
mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan
anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada
tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.
[397]. Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
[398]. Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika
terpaksa.
(QS Al An'aam ayat 145)
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,
kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging
babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih
atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang
dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka
sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS An Nahl Ayat 115)
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai,
darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain
Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak
menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging
babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108].
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa
baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[108]. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang
menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah
(QS Al Maa'idah Ayat 3)
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang
terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali
yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang
disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan
anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini[397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
[394]. Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al Anaam
ayat 145.
[395]. Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang
ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat
disembelih sebelum mati.
[396]. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah
menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah
mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka
ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masingmasing
yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak
ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah.
Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru
kunci Ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah
mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan
anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada
tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.
[397]. Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
[398]. Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika
terpaksa.
(QS Al An'aam ayat 145)
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,
kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging
babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih
atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang
dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka
sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS An Nahl Ayat 115)
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai,
darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain
Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak
menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Label:
Agama
Sabtu, 10 April 2010
Ilmu
Firman Allah :
Allah mengangkat dan meninggikan orang yang beriman dan yang berilmu beberapa derajat/tingkat.
Katakanlah apakah dapat disamakan antara orang- orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.
Ibn Abbas r.a. berkata:
Menuntut ilmu sesaat ( 1 jam ) lebih baik dari bangun ibadat 1 malam, dan menuntut ilmu sehari lebih baik daripada puasa 3 bulan.
Muhammad bin Ali berkata:
Dua rakaat dari seorang alim, lebih utama daripada tujuh puluh rakaat dari orang yang bodoh(tidak alim).
(R. Ibn Annajjaar)
Ibn Abbas r.a. berkata : Jika bertemu orang alim dengan orang abid diatas shirat, maka diperintahkan kepada abid itu: Masuklah ke surga dan bersuka- suka karena ibadatmu.
Dan dikatakan kepada orang alim itu: Berhentilah disini, dan berikan syafa'atmu pada siapa yang kau suka, maka tiadalah engkau memberi syafa'at kepada seorang melainkan akan diterima oleh Allah, maka ia berdiri sebagaimana kedudukan para nabi.
(R. Abusy Syaikh, Addailami).
Usman r.a. berkata :
Nabi saw bersabda :
Pertama yang dapat memberikan syafa'atnya para nabi, kemudian para ulama, kemudian para syuhada ( orang- orang yang mati syahid ). (R. Alkhathib)
Abu Saied r.a berkata :
Siapa yang mengajar satu ayat dari kitab Allah, atau satu bab dari ilmu agama, maka Allah akan menumbuhkan pahalanya hingga hari qiyamat.(R. Ibn Asakar)
Anas r.a berkata : Rasulullah saw bersabda: Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, sebab menuntut ilmu agama itu wajib atas tiap orang muslim. Sesungguhnya malaikat menghamparkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu karena ridha ( suka/senang ) dengan apa yang dituntut(dicari). ( H.R. Ibn Abdul Barr).
Sakh barah r.a. berkata: siapa yang menuntut ilmu, maka menjadi penebus dosa- dosa yang telah lalu.(R. Attirmidzi)
Aisyah r.a berkata:
Siapa yang pindah untuk belajar ilmu, maka akan diampunkan baginya sebelum melangkahkan kakinya. (R. Asysyairazi)
Allah mengangkat dan meninggikan orang yang beriman dan yang berilmu beberapa derajat/tingkat.
Katakanlah apakah dapat disamakan antara orang- orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.
Ibn Abbas r.a. berkata:
Menuntut ilmu sesaat ( 1 jam ) lebih baik dari bangun ibadat 1 malam, dan menuntut ilmu sehari lebih baik daripada puasa 3 bulan.
Muhammad bin Ali berkata:
Dua rakaat dari seorang alim, lebih utama daripada tujuh puluh rakaat dari orang yang bodoh(tidak alim).
(R. Ibn Annajjaar)
Ibn Abbas r.a. berkata : Jika bertemu orang alim dengan orang abid diatas shirat, maka diperintahkan kepada abid itu: Masuklah ke surga dan bersuka- suka karena ibadatmu.
Dan dikatakan kepada orang alim itu: Berhentilah disini, dan berikan syafa'atmu pada siapa yang kau suka, maka tiadalah engkau memberi syafa'at kepada seorang melainkan akan diterima oleh Allah, maka ia berdiri sebagaimana kedudukan para nabi.
(R. Abusy Syaikh, Addailami).
Usman r.a. berkata :
Nabi saw bersabda :
Pertama yang dapat memberikan syafa'atnya para nabi, kemudian para ulama, kemudian para syuhada ( orang- orang yang mati syahid ). (R. Alkhathib)
Abu Saied r.a berkata :
Siapa yang mengajar satu ayat dari kitab Allah, atau satu bab dari ilmu agama, maka Allah akan menumbuhkan pahalanya hingga hari qiyamat.(R. Ibn Asakar)
Anas r.a berkata : Rasulullah saw bersabda: Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, sebab menuntut ilmu agama itu wajib atas tiap orang muslim. Sesungguhnya malaikat menghamparkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu karena ridha ( suka/senang ) dengan apa yang dituntut(dicari). ( H.R. Ibn Abdul Barr).
Sakh barah r.a. berkata: siapa yang menuntut ilmu, maka menjadi penebus dosa- dosa yang telah lalu.(R. Attirmidzi)
Aisyah r.a berkata:
Siapa yang pindah untuk belajar ilmu, maka akan diampunkan baginya sebelum melangkahkan kakinya. (R. Asysyairazi)
Label:
Agama
Langganan:
Postingan (Atom)